Generasi Anti Korupsi, Mustahil ga sih ?

Udah lama engga nulis dan tetiba posting topik yang agak berat yes. Mau lu apa sih Tri ? wkwk. Gue mau bahas topik ini dari sudut pandang orang awam yang masih peduli dengan nilai kejujuran dan uang halal :D Kalau kita lihat di berita up to date, topik ini sepertinya sudah agak melempem karena ketumpuk berita lain yang ngeri-ngeri sedap haha. Tapi ga papa lah ya

Nah bicara korupsi, hal yang sepertinya sudah lumrah di negeri kita tercinta ‘Indonesia’. Bukan cuma di kalangan pemerintahan aja, bahkan sudah merajalela ke kalangan-kalangan seperti pengusaha, perpajakan, dan bahkan mungkin sebagian masyarakat umum pun sudah lumrah sama hal yang beginian. Memang barangkali sudah menjadi ‘budaya’ tersendiri bagi kita kali ya ? Dari zaman VOC pun orang-orang ‘mereka’ juga pada korupsi makanya tuh kongsi dagang bubar wkwk. Nah sebelum kita beranjak ke masalah yang lebih lanjut, gue mau ngutip dulu apa sih korupsi.


Korupsi berdasarkan pemahaman pasal 2 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang diubah menjadi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, merupakan tindakan melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain (perseorangan atau sebuah korporasi) , yang secara langsung maupun tidak langsung merugikan keuangan atau perekonomian negara, yang dari segi materiil perbuatan itu dipandang sebagai perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai keadilan masyarakat. (bisa cari di Google yes).

Terus kalo engga merugikan uang negara namanya bukan korupsi dong yaa ?? Kalo yang suap-suap biar dapet kerjaan/jabatan di pemerintahan gimana tuh ? Apalagi sampe dibisnisin *ehh (aku ga mau bahas yang ini ah :D)

Siapa sih yang engga benci sama korupsi ? kecuali para tikus itu sendiri sih. Tapi siapa sih yang berani jamin kalau orang yang sudah mengenal lembaran-lembaran hijau dan punya jabatan engga akan terbesit untuk bertindak korup ? Kalau sudah kenal benda yang satu ini, keteguhan iman orang pun bisa runtuh karena kilauan menggiurkan dari kertas-kertas pelambang hedonis ini. Bener gak ?

Kamu loh kritik-kritik tikus tapi gak ngaca diri sendiri ? *eh

Apa iya kita yang sudah berbicara panjang lebar mengenai korupsi itu haram, sudah merasa benar atau setidaknya bersih dari korupsi ‘kecil’ kayak korupsi waktu atau tipsen ? Rasanya akan sangat gak adil kalau kita menghujat orang-orang yang melakukan korupsi itu sebagai aib negara namun pada kenyataannya kita pun melakukan hal kotor seperti itu. Yaa walaupun dalam ruang lingkup kecil. Ini aku gak ngebela mereka loh ya. Ini aku cuman ngasih saran supaya kita beli kaca *lho ?
Nah gimana kalau posisinya dibalik ? Para tikus bertukar peran menjadi
rakyat, dan kita bertukar peran menjadi pejabat yang punya kekuasaan ? Apa iya engga akan terbesit di pikiran kita (walaupun seeeediiikiiitt) untuk nyentuh sesuatu yang bukan milik kita ? Apa iya engga akan terbesit di pikiran kita untuk sekadar mencicipi rasanya kenikmatan menjadi orang kaya yang memiliki banyak mobil dan
rumah ?

Engga ada yang bisa jamin kalau seseorang yang sudah diberikan kekuasaan akan ‘bersih’ sama sekali dari perilaku kotor seperti itu. Gue pun engga bisa jamin diri gue sendiri ketika gue jadi pejabat yang punya kuasa. Ya untuk sekarang gue mungkin berani jamin gue engga akan aneh-aneh, 10 tahun lagi ? 20 tahun lagi ? Kalau sudah masalah kepentingan, who knows ? Makanya gue engga mau dan jangan sampai deh terjun ke dunia politik-politikan. Waktu zaman kuliah gue pernah menjabat sebagai bendahara umum koperasi. Uang yang gue kelola pun engga main-main jumlahnya. Ratusan juta brooh. Sekali setor bisa puluhan juta. Tapi alhamdulillahnya gue masih pegang prinsip gue yang engga mau makan uang haram
wkwk.

Terus gimana solusinya ? Gimana caranya mutus rantai belenggu korupsi yang menjerat siapa saja yang haus akan kekuasaan serta uang ?

Ini gue sedang berandai-andai aja sih. Jika kita analogikan peradaban sebagai hutan, sedangkan usia produktif sebagai pohon serta generasi penerus sebagai bibit, Apa iya kita harus memusnahkan pohon-pohon yang ‘sakit’ dan menggantikannya dengan bibit yang baru ? Apa ada jaminan kalau bibit baru itu tumbuh jadi pohon yang sehat ? Engga, sama sekali engga. Gak ada jaminan kalau bibit-bibit baru itu gak punya hama menular saat tumbuh kelak.

Lalu, gimana kalau sebaliknya ? yang dimusnahkan adalah bibitnya, bukan pohonnya ? Apakah akan menjamin pemusnahan korupsi dari negeri kita Indonesia ? Jelas engga. Tindakan itu justru akan menghancurkan peradaban bangsa ini. Kalau gak ada lagi bibit yang akan meneruskan kelangsungan hidup suatu bangsa, maka hilanglah sebuah peradaban setelah pohon yang ada tua dan mati. Terus gimana ? gue kayak gak solusif gitu yah wkwk

Sekali lagi, uang bukanlah sesuatu yang dapat disepelekan gitu saja. Siapapun yang sudah punya kekuasaan, pasti akan ada (walaupun sedikit), perasaan ingin memiliki sesuatu yang lebih dari yang dimiliki. Rantai ini gak mudah buat diputusin gitu aja. Saling berkaitan seperti efek domino yang akan jatuh beruntun kalau salah satunya terperosok jatuh.

Masa sih kita harus kembali ke masa kolonial kayak dulu ? Indonesia dijajah dan berharap bisa mempersatukan kita kembali dari perpecahan dan menumbuhkan nasionalisme ? Bisa sih buat sekadar meminimalisir korupsi mah. Tapi haruskah kita menjual kedaulatan negara kita kepada penjajah untuk sekadar menumbuhkan rasa nasionalisme dari seluruh rakyat Indonesia ? Rasanya terlalu berlebihan. Padahal belum tentu juga Indonesia bisa mengusir penjajah dan merebut kembali Indonesia seperti yang dilakukan pahlawan-pahlawan kita terdahulu. Kalaupun bisa, belum tentu juga setelah penjajah pergi kita benar-benar dapat mengembalikan Indonesia tanpa korupsi. Ah jadi bingung saya.

Korupsi bisa dikatakan sudah mengakar di negeri tercinta kita Indonesia. Lembaga tindak pidana korupsi saat ini menurut saya baru membasmi kulit-kulit luarnya saja dan belum sampai pada tahap menyentuh inti dari penyakit ini. Hal demikian hanya akan menimbulkan tumbuhnya kulit-kulit baru. Sebagaimana kulit yang terluka akan mencoba menyembuhkan dirinya. Akan berakibat buruk jika kita tidak benar-benar berusaha menyentuh inti dari pohon-pohon sakit tersebut, dan malah akan menularkan penyakitnya ke pohon lain hingga menjadi epidemi. Ih kok serem.

Yah pada akhirnya kembali ke pribadi masing-masing. Hal yang bisa kita lakukan sekarang adalah menjadi pohon yang sehat dan kemudian melahirkan bibit-bibit unggul baru yang cinta akan tanah air dan gak kenal bahkan gak mau mengenal apa itu korupsi dan uang haram. Gue percaya masih banyak orang-orang cerdas yang benar-benar jujur dan bersih. Pun nantinya mereka akan melahirkan bibit-bibit sehat pula. Sehingga pada saatnya tiba, bibit-bibit unggul ini bisa menggantikan pohon-pohon tua yang ‘sakit’. Ini sebenarnya analogi dari teori siklus Polybius. Setelah kita melalui pemerintahan Monarki-Tirani-Aristokrasi-Oligarki kemudian Demokrasi, nanti kita akan kembali lagi ke tahap awal. Hal itu ditandai dengan munculnya sosok tunggal yang memiliki power. Kayak Ratu Adil aja ya wkwk.

Oiya ini re-posting dari akun tumblr gue sendiri
Kunjungi Tumblr gue juga ya
http://triasriw.tumblr.com  :D

Komentar

Pos Terpopuler